Seekor Hamster Pendamping Hidup
Tanggal 17 Oktober 2011 lalu, saya membuat sebuah keputusan yang besar dan cukup impulsif setelah mendengar cerita tentang teman saya yang memiliki seekor hamster.
Kenapa dibilang keputusan yang besar? Karena selama hidup 22 tahun, saya hanya pernah memelihara 3 jenis hewan, yaitu ikan, ayam, dan burung. Sementara keinginan punya kucing dan kelinci belum terpenuhi karena ketiadaan lahan di rumah. Jadi, memelihara seekor makhluk berbulu putih yang imut-imut itu merupakan sesuatu yang baru, dan merupakan keputusan yang besar karena saya jadi harus membagi jatah uang jajan saya untuk keperluan makhluk ini juga.
Kenapa dibilang impulsif? Karena saya memutuskan untuk membeli seekor hamster dalam waktu dua jam, yaitu ketika menemani teman saya, Rosa, menukar tempat minum untuk hamsternya. Tidak tahan melihat makhluk putih berbulu yang lincah dan bulat itu, saya memutuskan untuk membeli seekor hamster berjenis kelamin jantan, berjenis Winter White Pearl, dan sebuah funhouse kecil. Saya juga mendapatkan tester makanan yang cukup digunakan untuk dua minggu.
Hamster berumur 2 bulan yang saya namai Loki itu pun menjadi penghuni baru kamar saya. Dengan perlengkapan seadanya, saya berhasil membuatnya bertahan hidup selama beberapa minggu di kamar kosan saya. Waktu itu, saya belum punya tempat minum yang bisa dipasang di kandangnya sehingga untuk minum selalu saya tawarkan kepada si hamster beberapa kali dalam sehari. Sementara untuk makan, tidak ada masalah sama sekali. Tapi kebiasaannya aktif di malam hari, ketiadaan tempat minum, dan keinginannya untuk bermain di saat yang kadang tidak tepat membuat saya merasa seperti memiliki seorang bayi. Mungkin memelihara hewan seperti ini bisa jadi latihan yang baik sebelum benar-benar punya anak.
Membuat Animasi GIF
Ini adalah tutorial untuk membuat sebuah animasi GIF sederhana dengan menggunakan Adobe Photoshop (versi yang saya gunakan adalah CS3, tapi seharusnya untuk versi lain tidak jauh berbeda). Contoh animasi GIF yang akan dibuat adalah seperti ini:
Langkah-langkahnya tidak terlalu sulit. Tetapi memang butuh pemahaman minimal dalam menggunakan tools Adobe Photoshop. Ada baiknya juga memahami konsep dasar animasi dimana gambar bergerak sebenarnya merupakan efek dari pergerakan frame yang mengandung gambar. Agak sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi sambil jalan pasti mengerti. Mari langsung disimak saja
Violin dan Viola
By Request, terima kasih kepada Dita yang sudah memberikan ide topik untuk tulisan hari ini.
Sebenernya untuk soal teori musik dan instrumentasinya secara detil saya nggak jago-jago amat. Memainkan dua alat musik ini juga belum bagus-bagus amat. Basic saya memang violin, baru belajar (lumayan) serius pas kuliah tingkat I dimana baru punya kesempatan buat les dan lulus ujian grade I, setelahnya belajar sendiri atau minta diajarin teman-teman di ISO (ITB Student Orchestra) sambil sesekali mencoba kesempatan ikut konser-konser kecil. Untuk viola sendiri, saya baru mulai pegang + belajar baca partiturnya bulan januari 2011 yang lalu setelah sebelumnya vakum dari ISO untuk sementara karena tuntutan kuliah dan organisasi lain.
Memang faktanya, banyak orang yang nggak tahu apa itu viola atau dikiranya viola itu ya biola yang banyak dan biasa dimainkan orang. Agak rancu sebenernya kalau dalam bahasa indonesia. Tapi, mari kita buat jelas. Yang dimaksud biola biasa, dalam bahasa inggris itu disebutnya violin. Sementara viola itu, istilah indonesianya ‘biola alto’. Beberapa perbedaan yang jelas:
- Ukuran
Sekilas, kalau melihat orang bermain atau dari gambar, nggak akan terlihat dengan jelas perbedaannya. Karena violin pun macam-macam ukurannya ada yang 4/4 (paling besar), 3/4, 1/2,, 1/6, dst. Dari segi bentuk pun viola sangat mirip dengan violin. Tapi, viola itu lebih besar dari violin yang paling besar (4/4). Paling kecilnya aja sekitar 40cm, sementara biola 4/4 sekitar 35an. Akan sangat terasa kalau sudah coba dimainkan, apalagi yang tadinya terbiasa main violin. Pasti akan terasa lebih besar, jangkauan antar notnya pun jadi lebih lebar. - Senar
Viola punya 1 senar di bawah senar terendahnya biola. Senarnya masih tetap ada 4 buah, seperti violin. Tapi di viola, tidak ada senar E seperti di violin. Jadi, mudahnya, kalau violin itu punya senar (dari terendah – tinggi) G D A E, di viola itu C G D A (tanpa E). Makanya kalau di biola, awal-awal belajar biasanya main di tangga nada G mayor dulu. Sementara kalau di viola, lebih mudah main dari C mayor. Read the rest of this entry


